Arsip Semua Tulisan

Sugeng Tindak Simbah

Kalau saya saat ini berada di rumah, saya tidak akan sempat menulis notes ini, tapi menjadi beda ketika saya mendengar kabar duka ini dari kejauhan, di tempat yang berjarak ribuan km dan belasan jam dari rumah....
Pukul 14.00 waktu Belanda, karyawan saya menelpon dari Jogja, mengabarkan kalau simbah putri saya sedo (meninggal dunia). Padahal tadi pagi saya masih berkirim pesan dengan ibu, ibu sedang menyuapi simbah. Saya tahu simbah sudah cukup berat berjuang dengan keterbatasan kondisi fisiknya akhir-akhir ini, dipanggil menghadap-Nya adalah yang terbaik bagi simbah, agar simbah dibebaskan dari segala rasa sakit di fisiknya.
Pertama mendengar kabar Simbah meninggal dunia, saya sedih tapi terbersit sedikit perasaan lega, karena simbah tidak perlu lagi merasakan rasa sakit lebih lama lagi.... tapi semakin lama kesadaran itu semakin datang, kesadaran bahwa saya udah nggak bisa melihat simbah lagi, kesadaran bahwa hari terakhir saya mencium tangan simbah adalah hari sebelum saya berangkat studi ke Belanda pada tanggal 17 Agustus 2015 yang lalu, dengan sebuah bayangan di bawah sadar bahwa saya akan kembali lagi dan masih akan bertemu simbah. Kesadaran yang datang diiringi dengan rasa sesak di dada.
Saya tau setiap manusia akan dipanggil menghadapnya, yang saya baru saja sayar adalah kalau saya tidak siap untuk tidak bisa berada di sisi simbah pada saat-saat terakhirnya...
Kalau saya boleh menghibur diri,
setidaknya kami masih bertemu di video call beberapa hari yang lalu..
setidaknya simbah masih bisa melihat rafa masuk SD pertama kali...
setidaknya simbah masih sempet mangku farhan di kursi rodanya...
maaf ya mbah, cucu dan buyutmu tidak bisa menemani di saat saat terakhirmu... tapi doa kami selalu bersama simbah...
 
Innalillahi wa innaillaihi roji'un... sesungguhnya kita semua adalah milik Allah SWT  dan kita semua akan berpulang kepadaNya... Sugeng tindak simbah putri tercinta... eyang uyut tersayang...
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihii wa'fu'anhu. Amin.