Arsip Semua Tulisan

Mata Hati

Artikel ini ditulis setelah saya membaca 20 halaman pertama dari buku "Indonesia Mengajar 2". Baru membaca 1/21 bagian dari buku yang mempunyai total 435 halaman ini sudah membuat saya menangis sesenggukan, hidung mampet, mata bengkak. Malu sekali saya, membaca kisah kisah pengajar muda itu membuat saya merasa dangkal. Apalah yang sudah saya perbuat untuk negeri ini.. untuk rakyatnya.. belum ada! belum.. belum..

Di usia yang menginjak 31 tahun ini, 5 tahun saya habiskan untuk bermain, dan 16 tahun untuk belajar dari mulai SD sampai lulus kuliah S1, 10 tahun sisanya saya habiskan untuk bekerja yg sebagian besar hasilnya masih seputar untuk menghidupi keluarga. Belum ada hal yg cukup berarti yg saya lakukan yang bisa memberi dampak positif yang cukup signifikan pada banyak orang. 

Sebagai pelaku wirausaha, memang saya berkesempatan untuk membuka lapangan kerja, tapi apalah artinya 70 lapangan kerja dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang jumlahnya berjuta juta, mampukah saya memberikan sesuatu yang berarti bagi negeri ini sementara saya masih asyik dengan mimpi-mimpi saya sendiri, masih berjuang membagi waktu untuk keluarga, masih disibukkan dengan rutinitas kantor, berkutat dengan target laba rugi usaha.. 

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengeluh, tetapi untuk introspeksi diri, bahwa saya BELUM memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi negeri ini, bahwa saya masih punya Pe-eR BESAR untuk memberi perubahan yang baik, menyebarkan kebaikan, untuk bermanfaat bagi negeri ini...

Tulisan ini untuk menenangkan jiwa yang gelisah, menguatkan kesabaran selama masa penantian. Menanti di tengah perjuangan. Sebuah pernyataan pada diri sendiri, antara penyemangat dan usaha pembenaran atas prioritas saat ini, bahwa memang saat ini masih banyak prioritas pribadi dan keluarga, belum banyak bisa melakukan kegiatan sosial. Bagaimana saya bisa fokus dan total membantu orang lain kalau saya dan keluarga masih kekurangan? Pertanyaan yang dangkal mungkin, tapi realistis, oleh karenanya, saya memilih untuk berkata pada diri saya

"Kejarlah mimpimu, penuhi kebutuhan dasarmu dan orang orang terdekatmu SEGERA, agar setelah itu kamu mampu memprioritaskan kebutuhan orang orang lain yang tidak mempunyai hubungan dan ikatan darah denganmu, SEGERA!"

 

”For surely it’s not the eyes that are blind, but the heart.” 22:46 Quran.

 

Semoga kita semua dilindungi dari butanya mata hati, semoga hati ini tidak dibutakan oleh ambisi ambisi duniawi yang tanpa batas...

 

Sebuah pengingat pada diri sendiri, untuk menjaga keinginan dan kebutuhan dalam batas CUKUP, agar bisa munCUKUPkan kebutuhan dan keinginan orang lain juga.

 

Amin ya Rob

Add comment


Security code
Refresh

Written by Herwina Dian