Arsip Semua Tulisan

Tentang Menulis dan Menyampaikan pendapat

Awal mula website ini dibuat adalah untuk mengakomodasi keinginan saya untuk bisa banyak menulis. Saya paham betul, kemampuan menulis ini sangat penting, dan perlu diasah, tidak hanya untuk keperluan publikasi, akademik ataupun pekerjaan, tetapi juga untuk membiasakan pola pikir dan kemampuan menyampaikan ide dengan baik. 

Dengan minimnya aktifitas menulis yang saya lakukan, kelemahan saya adalah dalam hal mengkomunikasikan atau menyampaikan ide dengan bahasa yang terstruktur dan mudah dipahami. Hal tersebut jelas terlihat dari hasil Test IELTS saya, dari total Nilai IELTS 7, komponen terendah adalah untuk academic writing yaitu 5.5. 

Kemampuan berbahasa terdiri dari kemampuan aktif dan pasif, kemampuan pasif biasanya diukur dari kemampuan memahami ide dengan mendengarkan dan membaca, sementara kemampuan berbahasa aktif biasanya diukur dari kemampuan menyampaikan ide melalui berbicara dan menulis. Nah kemampuan menyampaikan ide ini, berbanding lurus dengan jam terbang. Semakin sering diasah maka akan semakin bagus dan demikian sebaliknya apabila tidak pernah diterapkan, sebagus apapun pengetahuan bahasanya maka tidak akan maksimal hasilnya.

Menyampaikan ide bukan hanya tentang kemampuan berbahasa tetapi juga kemampuan untuk berpendapat dan berpikir kritis. Sebagai contoh, saya tahu ada kebijakan baru tentang penggunaan kantong plastik, tapi belum tentu saya bisa membuat tulisan sepanjang 500 kata atau berpidato 5 menit untuk menyampaikan kritik, saran ataupun komentar tentang kebijakan tersebut. Ketika seseorang tidak biasa berpikir kritis, segala sesuatu yang dilihat, dibaca dan didengar hanya akan diserap atau disimpan, tanpa diproses lebih lanjut. Proses mengkritisi biasanya ditandai dengan pertanyaan semacam “kok bisa” “kenapa” dan kemudian berlanjut dengan beberapa pertanyaan seperti “yang betul seperti apa” “yang mana yang lebih baik” “apakah itu buruk”, dst dan dilanjutkan dengan usaha untu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Seseorang dengan pola pikir yang kurang kritis, harus menunggu ditanya orang lain dahulu untuk mencari tahu tentang hal-hal tersebut.

Kemampuan ide ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan, dari mulai lingkungan keluarga, sekolah ataupun pergaulan. Orang yang datang dari lingkungan yang membiasakan diskusi dan memandang perbedaan pendapat itu wajar dan sebagai proses pembelajaran biasanya memiliki pola pikir yang lebih kritis dan mudah menyampaikan ide mereka, sementara orang yang datang dari lingkungan yang minim diskusi dan penuh dengan batasan salah dan benar, serta memandang perdebatan dan perbedaan pendapat sebagai konflik, akan cenderung pasif, karena tidak terbiasa mengemukakan pendapat mereka.

Bagi saya sendiri sayangnya saya termasuk di golongan kedua, walaupun tidak dalam kondisi yang tidak bebas mengeluarkan pendapat, tapi saya tidak biasa berdiskusi, dan kecenderungan lingkungan keluarga saya memandang perbedaan pendapat sebagai suatu konflik. Saya mulai merasakan dampak minimnya pola pikir kritis ini ketika mulai masuk di lingkungan kerja. Proses bekerja melibatkan interaksi dan komunikasi yang sangat intensif, pandai saja tidak cukup untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik. 

 

Saat ini, ketika saya berkesempatan untuk menempuh studi S2 di Belanda, saya semakin merasakan kebutuhan untuk mampu menyampaikan ide dengan baik. Semua proses pembelajaran melibatkan diskusi, proses penilaian dilakukan melalui ujian tertulis, tugas membuat artikel dan tugas kelompok, yang semuanya membutuhkan kemampuan menyampaikan ide dengan baik dan terstruktur. Tidak mudah bagi saya untuk mengejar ketertinggalan tapi saya yakin tidak ada kata terlambat.

Add comment


Security code
Refresh

Written by Herwina Dian