Arsip Semua Tulisan

Gagal Fokus

Saat ini seharusnya saya segera menyelesaikan inputan data mainan di aplikasi baru Rafa Rental World, karena datanya tidak bisa diimport dari excel jadi harus diinput satu satu, dan pembagian tugasnya tidak memungkinkan kalau harus diinput oleh suami saya atau karyawan saya, mengingat keterbatasan waktu dan energi, tetapi sayang sekali fokus saya selama beberapa hari ini sangat susah diarahkan, saya menyebutnye gejala "gagal fokus"

Pada saat banyak to do list yang harus dikerjakan dan semuanya ada pada tingkat prioritas yang sama, maka otak saya mengalami kebingungan dalam memprioritaskan pekerjaan yang mana yang harus didahulukan, dan akhirnya bolak balik dari satu kerjaan ke kerjaan yang lain tanpa ada yang selesai, ini sindrom sudah ada sejak jaman sekolah kayaknya sih kalau lagi banyak tugas atau pe-er dan panik karena semuanya susah, saya malah baca komik, nanti malemnya pada saat kondisi kepepet barulah muncul itu energi dan ide ide untuk mengerjakan tugas2 tersebut ^_^

Seperti halnya malam ini, saya memilih untuk menulis saja dulu, berharap makin malam muncul the power of kepepetnya, dan ada peningkatan kecepatan input data, haha ^_^ Akhir-akhir ini minat untuk menulis makin menguat, kuattt banget, cukup mengganggu fokus ke kerjaan, sungguh momen yang enggak tepat banget mengingat akhir tahun begini banyakkk to do list yang harus diselesaikan baik di kantor ataupun di rumah. Udah gitu minat lain yang lama dipendam juga nggak mau kalah, muncul menguat, yaitu minat memasak, huaaaa.... semakin gagal fokus...

Cita cita saya, pengen segera pensiun dari ketugasan operasional Rafa Rental World yang artinya delegasi tugas dan tanggungjawab ke karyawan segera diintensifkan, supaya saya punya sedikiittt tambahan waktu luang yang bisa saya gunakan untuk menulis dan belajar memasak, ujung ujungnya balik lagi, berarti sekarang harus segera menyelesaikan urusan Rafa Rental World dulu... ya baiklahhh, saya akan memaksa diri untuk fokus lagi, ganbarimasu!!

 

Cari Sekolah Yang Dekat Rumah Saja?

{jcomments on}Seminggu terakhir ini saya dan suami sedang intensif intensifnya berburu SD untuk anak kami , Rafa. Ada cerita menarik dibalik proses mencari sekolah ini. Bagi Saya, sejak saya mengandung Rafa, saya sudah memikirkan mengenai sekolahnya, bahwa sekolah formal pertamanya nanti (yaitu playgroup) harus sekolah yang banyak bermainnya, sekolah yang akan membuat Rafa suka belajar--bahkan dalam bahasa yang lebih hiperbolis saya kadang menggunakan istilah "ketagihan" belajar :D.

Proses belajar adalah kombinasi antara pembelajaran di dalam diri sendiri, di dalam keluarga (rumah), di sekolah, dan di masyarakat. Tiga dari empat lingkungan tersebut kendalinya ada di orang tua dengan cara menjaga komunikasi dengan anak sejak dini. Apabila orang tua mampu mengarahkan pada tiga lingkungan pertama, maka anak akan lebih bisa bertahan dan mempunyai karakter ketika pada akhirnya dia harus menghadapi lingkungan terakhir yaitu masyarakat. Hal itu yang mendasari kehati-hatian kami dalam memilih sekolah untuk Rafa.

Nasehat klasik yang selalu kami dengar dari sejak awal kami mencari playgroup sampai saat ini kami mencari SD untuk Rafa adalah: "Cari sekolah yang dekat dengan rumah saja" ^_^ kami sangat maklum sekali kenapa nasehat ini banyak sekali terlontar baik dari keluarga ataupun temen, karena memang salah satu tantangan menyekolahkan anak adalah waktu dan energi untuk antar jemput, karena anak usia playgroup sampai SD masih sangat butuh diantar jemput. Bagi orang tua yang dua duanya (ayah & ibu) bekerja dan terikat jam kantor jarak memang layak menjadi pertimbangan utama, sangat dimaklumi, hanya saja saya kadang menyayangkan beberapa orang tua yang saya tau punya cukup waktu untuk mengantar anaknya (tidak terikat jam kantor) tetapi masih mempersoalkan jauh dekat, karena nggak mau capek :(

Saya teringat komentar teman saya saat saya bercerita tentang pertimbangan saya memilih SD untuk Rafa, dia berceletuk "lha kamu aja dulu cuma di SD Gandok aja bisa kuliah di UGM kok,berarti kan SD ndeso aja bisa bikin muridnya ke UGM" respon spontan saya adalah "betul, tapi aku pernah iseng berandai andai, aku cuma SD Gandok aja bisa sampai UGM, kalau dulu aku di SD yang lebih bagus lagi mungkin aku kuliahnya si Singapore atau Jepang, full S1 nggak cuma pertukaran pelajar 1 semester aja" temen saya cukup speechless dengan komentar spontan saya tersebut ^_^

Saya sendiri tidak pernah komplain kepada orang tua saya tentang pemilihan sekolah saya dulu. Saya sangat mensyukuri apa yang saya dapatkan sampai saat ini, perjalanan dan pencapaian saya sampai titik sekarang ini, saya tau Ibu dan Bapak sudah mengusahakan yang terbaik yang mereka bisa. Belum lama ini, saat terjadi pembicaraan iseng tentang proses pemilihan sekolah Rafa, ibu mengeluarkan statement yang baru pertama kali saya dengar, bahwa ternyata pernah terbersit penyesalan karena pada waktu memilihkan SMP untuk saya pertimbangannya adalah jarak. Saya lulus SD tahun 1994 dengan NEM 43,72 untuk 5 mata pelajaran, dengan NEM itu pada tahun tersebut seharusnya saya bisa masuk ke SMP 1 atau SMP 8 (SMP 5 kalau tidak salah minimal 45 pada waktu itu). Dengan pertimbangan bahwa ibu berharap di tahun kedua saya bisa berangkat sendiri menggunakan bus, jarak SMP 1 dan SMP 8 dinilai cukup jauh, dan ibu khawatir saya tidak akan berani, akhirnya ibu mendaftarkan saya di SMP 10. Pada tahun pertama saya di SMP 10 ternyata saya langsung berani naik bis, bahkan hanya dalam hitungan bulan sejak hari pertama masuk, tepat pada saat saya berani naik bis  untuk petama kali, tepat pada saat itu mncul penyesalan di hati ibu, kalau mengutip pernyataan ibu "oalah nduk, kalau tau kamu bakal cepet berani naik bis sendiri, dulu ibu daftarin kamu di SMP 8 atau SMP 1" :)

Oleh karena itulah, saya yang Alhamdulillah diberi karunia punya suami yang full time entreupreneur tidak terikat jam kantor dan punya pemikiran sama tentang pendidikan untuk anak, sejak awal memprioritaskan mencari sekolah yang membuat Rafa nyaman bermain sambil belajar, Alhamdulillah, usaha kami menghasilkan, outputnya jauhhh lebih dahsyat dari effort dan capeknya. Rafa masuk playgroup umur 2 tahun, dari sejak playgroup dia tidak pernah enggan berangkat sekolah, selalu semangat, progress kecerdasannya baik secara emosional ataupun intelektual pun jelas terlihat, Rafa tumbuh sebagai anak yang mandiri, percaya diri, terbuka terhadap tempat dan orang orang baru, keingintahuannya sangat tinggi, aktif, kreatif, bisa diajak berdiskusi dan menyepakati aturan2 sederhana, kosakata untuk anak seumuran dia sangat banyak baik dalam bahasa Indonesia ataupun Bahasa Inggris, dan yang paling penting semuanya itu terjadi tanpa proses paksaan, mengalir begitu saja, kami sangat bangga sekali sebagai orang tuanya. 

Ada kesamaan ciri antara playgroup dan TK tempat Rafa sekolah, walaupun keduanya adalah brand sekolah yang berbeda (Playgroup Ollifant & TK Fastrack), tetapi kedua2nya sama sama menggunakan metode bermain sambil belajar, rasio guru dan murid kecil (1:7), tidak ada ranking, tidak memforsir anak untuk harus bisa baca tulis dan hitung, memfasilitasi keingintahuan anak dengan metode belajar sambil berdiskusi dan observasi, oleh karena itulah kami berusaha mencari SD dengan karakter yang sama seperti itu, dan ternyata tidak gampang, karena cukup susah cari SD yang tidak ada ranking, tidak menjadikan kemampuan baca tulis hitung sebagai kriteria penerimaan murid (padahal Rafa sudah lancar baca tulis hitung, tapi saya nggak mau dia diforsir baca tulis hitung), rasio guru dan murid kecil, banyak observasi dan diskusi, dan Alhamdulillah kami menemukan kriteria kriteria tersebut di sekolah tumbuh :)

Sekolah tumbuh ini 1 kelas cuma terdiri dari maksimal 20 anak, dengan jumlah guru 2 untuk setiap 1 kelas, di SD tumbuh tidak ada ranking, penilaian setiap anak bersifat individual, berdasarkan kelebihan dan kekurangan masing masing, tidak diperbandingkan satu sama lain, konsepnya sederhana: tidak semua anak harus pintar matematika atau bahasa atau musik kan? ada anak yang pintar musik tapi lemah di bahasa, atau pintar matematika tapi lemah di musik, hal tersebut tidak menjadikan satu anak bodoh dan yang lain pintar, masing masing bisa optimal apabila mengetahui kelebihan dan kekurangan masing masing dan saya sukaaa banget dengan sistem dan cara pandang ini, InsyaAlloh tanpa diperbandingkan setiap anak akan merasa dihargai, akan lebih pede dan mencintai apa yang mereka lakukan tanpa pressure dan paksaan, daan kabar bagusnya adalah pada saat open house Rafa kami ajak ke SD tumbuh, dia asik bermain dan kami mengikuti presentasi, setelah selesai, kami tanya ke dia, "Rafa mau sekolah di sini?" jawabnya "maauuuuu" :)

Tinggal satu dua pe-er nya, tidak semua pendaftar pasti diterima di SD tumbuh ini :D walaupun tidak ada seleksi baca tulis hitung tapi SD tumbuh menerapkan sistem seleksi berupa observasi dan interview, pada hari observasi semua calon murid yang mendaftar (20 orang) dikumpulkan dalam 1 kelas, anak anak itu akan diamati pola interaksi satu sama lain, kesiapan emosional untuk berada dalam 1 kelas, jadi hasil observasinya tidak bergantung pada kemampuan per anak saja, tetapi pada hasil interaksi mereka :p

Apabila sang anak lolos observasi, giliran selanjutnya adalah interview bagi orang tua :) pihak sekolah ingin memastikan bahwa orang tua mempunyai komitmen untuk turut berperan dalam pendidikan anak, walaupun proses seleksinya bikin deg-degan tapi saya sukaaa, berarti memang SD tumbuh concern sekali terhadap pendidikan anak, semogaa Rafa bisa beradaptasi pada hari H observasi dan semoga kami bisa meyakinkan pihak sekolah tentang komitmen kami pada pendidikan Rafa, Aaaaminnnn

Dan pasti akan ada orang yang berkomentar "Ribet amat, cari SD aja kayak cari SMP/SMA/Kuliah", hehe… untuk pendidikan anak kami punya standar sendiri, telinga kami sudah kebal dengan komentar komentar miring dan tidak akan menyurutkan niat kami sedikitpun :) teriring doa semoga Rafa mendapatkan ilmu yang bermanfaat yang membibingnya menjadi sosok sesuai namanya "Putra keluarga Wibowo yang hidup mulia karena kebijaksanaannya" Aaamin Aamin Aamin Ya Robbal'Alamin….

PS: Rafa bilang dia pengen sekolah SMP di Singapore :D >>> Aaaminnnn

Mari Menulis

Bismillah...

Finally, saya bisa merealisasikan niat untuk menulis, Alhamdulillah....

Satu hal yang selalu terlewatkan, karena tidak pernah disempatkan adalah menulis, dan sayangnya satu hal itu sangat penting, karena dengan menulis saya bisa berbagi banyak hal, berbagi ilmu, berbagi pengalaman. Karena saya tidak menyempatkan untuk menulis, banyak pengalaman dan ilmu yang belum saya bagi, dan karena keterbatasan daya ingat saya, beberapa pengalaman dan ilmu tersebut sudah menguap...

Banyak alasan yang menyebabkan ditundanya proses menulis ini, salah satunya karena saya menginginkan tulisan yang bagus yang berarti topiknya bagus, pilihan katanya bagus, susunan tulisan rapi dan terstruktur, dan lain sebagainya, yang membuat saya berpikir harus menyiapkan tulisan sebelumnya, baru kemudian diupload ke website, dan akhirnya hanya berakhir sebagai niat yang belum pernah terlaksana.

Oleh karena itu, malam ini (pagi ini tepatnya) saya tidak ingin menunda lagi, saya memutuskan untuk menulis secara spontan, mengesampingkan bobot topik, pilihan kosakata ataupun struktur penulisan, insyaAllah hal hal tersebut akan terasah dengan sendirinya dengan semakin banyak jam terbang menulis saya. Seperti layaknya belajar menyetir mobil, walaupun sudah bisa menghapalkan angka angka kopling, sudah tau pedal gas dan rem, sudah bisa memegang lemudi, tetapi kalau tidak pernah dan tidak sering-sering praktek menyetir di jalan, maka dijamin tidak akan pernah bisa menyetir, semakin lama menyetir kemampuan mengukur dimensi ruang akan semakin terasah, pengaturan rem, gas dan kopling akan lebih halus.

Dengan menulis saya ingin bisa berbagi cerita, berbagi pengalaman, berbagi ilmu, memperkaya pengetahuan, memperkaya kosakata, belajar mengungkapkan pendapat, belajar menyampaikan pendapat secara terstruktur, dan masih banyak lagi, so Bismillah... I'm starting it!