Arsip Semua Tulisan

Komindekas-Mengunjungi Petani Belanda dan Rumah Kaca-nya

Berawal dari notifikasi pesan masuk Group Whatsapp Kagama-NL, alumni Universitas Gadjah Mada yang berada di Belanda, saya melihat kiriman gambar dari seorang teman yang memiliki nama panggilan yang sama dengan saya: Mba Dian. Saya membuka foto yang dikirimkan oleh Mba Dian, yang rupanya foto sebuah iklan di surat kabar lokal Belanda tentang acara yang disebut Komindekas. Di bawah foto tersebut mba Dian memberikan keterangan pengantar “Bagi yang berminat mengunjungi petani, silahkan. Ada open house 2 dan 3 april. Lihat pertanian di sekitar www.komindekas.nl” Dari situ saya kemudian mencari info lanjutan tentang acara Komindekas.

Secara harafiah Komindekas berarti datang ke rumah kaca (kom = datang, in = ke, de kas = rumah kaca). Komindekas merupakan even tahunan di Belanda, dimana publik/ masyarakat umum diberi kesempatan untuk mengunjungi rumah kaca milik petani, yang biasanya tidak dibuka untuk umum. Even ini hanya diselenggarakan selama 2 hari saja, biasanya diselenggarakan di minggu pertama bulan April, untuk menyambut musim semi. Pada tahun 2016 ini, Komidekas diselenggarakan pada tanggal 2 dan 3 April. 

Jumlah rumah kaca yang bisa dikunjungi pada tahun ini sebanyak 178, yang tersebar di seluruh Belanda, terbagi dalam 10 Provinsi. Pengunjung tidak perlu membuat reservasi/ perjanjian dan tidak dipungut biaya untuk mengikuti acara ini, cukup mencatat alamat rumah kaca yang ingin dikunjungi beserta jam bukanya, dan langsung datang pada hari H. 

Karena cuaca cukup bersahabat, kami sekeluarga berniat mengunjungi Komindekas dengan naik sepeda. Berhubung di DenHaag tidak ada rumah kaca yang terdaftar di acara tersebut, kami mencari alternatif rumah kaca di wilayah terdekat, yang terjangkau dengan sepeda, dan pilihan jatuh pada area west land. Menurut Google Map, jarak antara rumah kami dengan area tersebut sekitar 10km dan bisa ditempuh dengan menaiki sepeda selama kurang lebih 30 menit.

Ada sejumlah 15 kas (rumah kaca) di area Westland, tumbuhan yang ditanam di dalam kas bervariasi, secara umum ada 4  jenis, yaitu sayuran, bunga potong, tanaman dalam pot dan buah. Setiap kas biasanya memiliki 1 spesialisasi jenis tumbuhan saja, sayangnya di westland tidak ada rumah kaca yang menanam bunga tulip, padahal saya ingin sekali melihat proses penanaman bunga tulip secara langsung  

 

Hari sabtu tanggal 2 April, Setelah persiapan rempong dari mulai baju ganti, bekal makan siang dan memompa sepeda, akhirnya kami berangkat dari rumah pada pukul 10 pagi. Suami saya membonceng Farhan, dan saya membonceng Rafa. Cuaca cukup cerah dan rute yang ditempuh cukup landai. Dengan selingan acara foto-foto ketika menemui pemandangan yang bagus di sepanjang perjalanan, kami tiba di tempat tujuan dalam waktu sekitar 40 menit. Kami mengunjungi kas sesuai urutan rute yang disarankan oleh penyelenggara, tetapi karena keterbatasan waktu, kami hanya berhasil mengunjungi 8 saja. 

 

Tentang Menulis dan Menyampaikan pendapat

{jcomments on}

Awal mula website ini dibuat adalah untuk mengakomodasi keinginan saya untuk bisa banyak menulis. Saya paham betul, kemampuan menulis ini sangat penting, dan perlu diasah, tidak hanya untuk keperluan publikasi, akademik ataupun pekerjaan, tetapi juga untuk membiasakan pola pikir dan kemampuan menyampaikan ide dengan baik. 

Dengan minimnya aktifitas menulis yang saya lakukan, kelemahan saya adalah dalam hal mengkomunikasikan atau menyampaikan ide dengan bahasa yang terstruktur dan mudah dipahami. Hal tersebut jelas terlihat dari hasil Test IELTS saya, dari total Nilai IELTS 7, komponen terendah adalah untuk academic writing yaitu 5.5. 

Kemampuan berbahasa terdiri dari kemampuan aktif dan pasif, kemampuan pasif biasanya diukur dari kemampuan memahami ide dengan mendengarkan dan membaca, sementara kemampuan berbahasa aktif biasanya diukur dari kemampuan menyampaikan ide melalui berbicara dan menulis. Nah kemampuan menyampaikan ide ini, berbanding lurus dengan jam terbang. Semakin sering diasah maka akan semakin bagus dan demikian sebaliknya apabila tidak pernah diterapkan, sebagus apapun pengetahuan bahasanya maka tidak akan maksimal hasilnya.

Menyampaikan ide bukan hanya tentang kemampuan berbahasa tetapi juga kemampuan untuk berpendapat dan berpikir kritis. Sebagai contoh, saya tahu ada kebijakan baru tentang penggunaan kantong plastik, tapi belum tentu saya bisa membuat tulisan sepanjang 500 kata atau berpidato 5 menit untuk menyampaikan kritik, saran ataupun komentar tentang kebijakan tersebut. Ketika seseorang tidak biasa berpikir kritis, segala sesuatu yang dilihat, dibaca dan didengar hanya akan diserap atau disimpan, tanpa diproses lebih lanjut. Proses mengkritisi biasanya ditandai dengan pertanyaan semacam “kok bisa” “kenapa” dan kemudian berlanjut dengan beberapa pertanyaan seperti “yang betul seperti apa” “yang mana yang lebih baik” “apakah itu buruk”, dst dan dilanjutkan dengan usaha untu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Seseorang dengan pola pikir yang kurang kritis, harus menunggu ditanya orang lain dahulu untuk mencari tahu tentang hal-hal tersebut.

Kemampuan ide ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan, dari mulai lingkungan keluarga, sekolah ataupun pergaulan. Orang yang datang dari lingkungan yang membiasakan diskusi dan memandang perbedaan pendapat itu wajar dan sebagai proses pembelajaran biasanya memiliki pola pikir yang lebih kritis dan mudah menyampaikan ide mereka, sementara orang yang datang dari lingkungan yang minim diskusi dan penuh dengan batasan salah dan benar, serta memandang perdebatan dan perbedaan pendapat sebagai konflik, akan cenderung pasif, karena tidak terbiasa mengemukakan pendapat mereka.

Bagi saya sendiri sayangnya saya termasuk di golongan kedua, walaupun tidak dalam kondisi yang tidak bebas mengeluarkan pendapat, tapi saya tidak biasa berdiskusi, dan kecenderungan lingkungan keluarga saya memandang perbedaan pendapat sebagai suatu konflik. Saya mulai merasakan dampak minimnya pola pikir kritis ini ketika mulai masuk di lingkungan kerja. Proses bekerja melibatkan interaksi dan komunikasi yang sangat intensif, pandai saja tidak cukup untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik. 

 

Saat ini, ketika saya berkesempatan untuk menempuh studi S2 di Belanda, saya semakin merasakan kebutuhan untuk mampu menyampaikan ide dengan baik. Semua proses pembelajaran melibatkan diskusi, proses penilaian dilakukan melalui ujian tertulis, tugas membuat artikel dan tugas kelompok, yang semuanya membutuhkan kemampuan menyampaikan ide dengan baik dan terstruktur. Tidak mudah bagi saya untuk mengejar ketertinggalan tapi saya yakin tidak ada kata terlambat.

Mata Hati

Artikel ini ditulis setelah saya membaca 20 halaman pertama dari buku "Indonesia Mengajar 2". Baru membaca 1/21 bagian dari buku yang mempunyai total 435 halaman ini sudah membuat saya menangis sesenggukan, hidung mampet, mata bengkak. Malu sekali saya, membaca kisah kisah pengajar muda itu membuat saya merasa dangkal. Apalah yang sudah saya perbuat untuk negeri ini.. untuk rakyatnya.. belum ada! belum.. belum..

Di usia yang menginjak 31 tahun ini, 5 tahun saya habiskan untuk bermain, dan 16 tahun untuk belajar dari mulai SD sampai lulus kuliah S1, 10 tahun sisanya saya habiskan untuk bekerja yg sebagian besar hasilnya masih seputar untuk menghidupi keluarga. Belum ada hal yg cukup berarti yg saya lakukan yang bisa memberi dampak positif yang cukup signifikan pada banyak orang. 

Sebagai pelaku wirausaha, memang saya berkesempatan untuk membuka lapangan kerja, tapi apalah artinya 70 lapangan kerja dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang jumlahnya berjuta juta, mampukah saya memberikan sesuatu yang berarti bagi negeri ini sementara saya masih asyik dengan mimpi-mimpi saya sendiri, masih berjuang membagi waktu untuk keluarga, masih disibukkan dengan rutinitas kantor, berkutat dengan target laba rugi usaha.. 

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengeluh, tetapi untuk introspeksi diri, bahwa saya BELUM memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi negeri ini, bahwa saya masih punya Pe-eR BESAR untuk memberi perubahan yang baik, menyebarkan kebaikan, untuk bermanfaat bagi negeri ini...

Tulisan ini untuk menenangkan jiwa yang gelisah, menguatkan kesabaran selama masa penantian. Menanti di tengah perjuangan. Sebuah pernyataan pada diri sendiri, antara penyemangat dan usaha pembenaran atas prioritas saat ini, bahwa memang saat ini masih banyak prioritas pribadi dan keluarga, belum banyak bisa melakukan kegiatan sosial. Bagaimana saya bisa fokus dan total membantu orang lain kalau saya dan keluarga masih kekurangan? Pertanyaan yang dangkal mungkin, tapi realistis, oleh karenanya, saya memilih untuk berkata pada diri saya

"Kejarlah mimpimu, penuhi kebutuhan dasarmu dan orang orang terdekatmu SEGERA, agar setelah itu kamu mampu memprioritaskan kebutuhan orang orang lain yang tidak mempunyai hubungan dan ikatan darah denganmu, SEGERA!"

 

”For surely it’s not the eyes that are blind, but the heart.” 22:46 Quran.

 

Semoga kita semua dilindungi dari butanya mata hati, semoga hati ini tidak dibutakan oleh ambisi ambisi duniawi yang tanpa batas...

 

Sebuah pengingat pada diri sendiri, untuk menjaga keinginan dan kebutuhan dalam batas CUKUP, agar bisa munCUKUPkan kebutuhan dan keinginan orang lain juga.

 

Amin ya Rob

Nggak ada orang yang seneng terus...

Beberapa waktu terakhir ini Alhamdulillah saya sedang beruntung banget... dari mulai  tanda tangan MOU kemitraan Rafa Rental Bandarlampung, berangkat ke Hongkong Macau Shenzhen setelah menunggu 6 bulan dari sejak beli tiket promo, diwawancara dan dimuat tabloid KONTAN online, hasil test pack kehamilan positif, diwawancara dan ditayangkan di RCTI & Indosiar, diwawancara dan dimuat di harian BERNAS, sampai yang barusan datang adalah kabar Rafa, putra saya, diterima di SD Tumbuh....

Sepertinya nikmat Alloh SWT nggak henti hentinya mengucur ke saya dan keluarga... tentu saja saya senang, saya bahagia, tapi di saat bersamaan adalah kebiasaan bagi saya ketika terjadi hal hal yang menyenangkan secara terus menerus saya langsung was was, semacam memasang status siaga "hmm... gak mungkin nih seneng seneng terus-terusan, jangan jangan habis ini ada kabar nggak enak..." 

Sebenarnya kekhawatiran saya itu berlandaskan pada keyakinan saya, bahwa setiap orang punya jatah kesenangan dan kesedihan yang sama, hari ini bisa saja saya yang senang besok gantian teman saya yang senang, atau hari ini saya senang besok saya sedih... Oleh karena itu saya berusaha sekali untuk mengerem, pada saat senang supaya nggak terlalu berlebihan senangnya demikian juga pada saat saya sedih juga tidak berlebihan sedihnya, walaupun prakteknya agak susah tapi selalu saya usahakan untuk menjaga gejolak emosi hati baik pada saat senang ataupun sedih. 

Saya meyakini bahwa setiap kesusahan/kesedihan seseorang agan ditukar dengan kemudahan/kesenangan di lain waktu. Jadi ketika beberapa waktu terakhir ini sepertinya saya seneng terus, saya ingat ingat lagi kira kira kemarin udah susah belum, kalau belum susah berarti siap siap susah dan berdoa semoga kesusahan yang diberikan nggak susah susah amat, dan cuma sebentar saja :D (Aaamin). Kalau ditelusur, sepertinya proses susahnya sudah saya lalui, dari mulai perasaan galau setiap kali saya datang bulan/ haid atau perasaan kecewa setiap kali terlambat datang bulan tapi hasil test pack negatif, Ibu sakit batuk dan harus diasap 6 jam sekali sepulang dari Hongkong karena kedinginan selama di Hongkong, dan beberapa hal lain yang tidak perlu saya detailkan satu persatu. Ada bagian dari suara hati kecil yang berkata "mungkin kesenangan ini untuk menukar kesedihan/ kesulitan-kesulitan kemarin", bagian hati yang lain berkata "semoga bayaran kesenangan kali ini tidak mahal, tidak perlu ditebus dengan kesulitan besar" Aaaaaminnnn....

Ada hal lucu yang ditanyakan oleh teman saya "kayaknya hidupmu seneng terus ga pernah susah ya?" saya balik tanya "kok bisa ngomong gitu, tau darimana?" kata temen saya dia menyimpulkan dari status status FB saya, katanya status FB saya seneng terus ga pernah susah :D. Huehe Alhamdulillah... berarti misi saya berhasil, untuk menggunakan media sosial sebagai sarana berbagi kebaikan, berbagi hal-hal positif :). Nggak pernah update status kalau sedang tidur bukan berarti nggak pernah tidur kan? nah nggak pernah update status kalau sedang sedih bukan berarti saya nggak pernah sedih dong :D kalau lagi sedih/kesulitan, daripada buang buang waktu untuk galau atau sekedar update status galau mending energinya dipakai untuk mencari solusi/ jalan keluar :)

Setiap kesenangan dan kesulitan semua dari Alloh SWT yang PASTI ada hikmahnya. Tidak ada orang yang senang terus, demikian pula halnya nggak ada orang yang sedih terus, batas kesenangan dan kesedihan itu ada di manajemen hati dan manajemen rasa syukur, mari belajar menata hati dan belajar bersyukur baik untuk saat senang ataupun sedih :)

Pay It Forward

Ada yang pernah nonton film "Pay It Forward"? Film yang terinspirasi dari Buku dengan judul yang sama karangan Chaterine Ryan Hyde ini berkisah tentang seorang anak bernama Trevor McKinney yang mempunyai gagasan tentang konsep "Pay it Forward" yaitu membayar perbuatan baik dengan cara meneruskan berbuat baik ke orang lain, bukan membayar kembali langsung pada sang pelaku kebaikan. Menurut Trevor, kalau 1 orang berbuat baik padanya, minimal dia meneruskan kebaikan tersebut kepada 3 orang, dan masing masing orang harus meneruskan kepada 3 orang lain lagi dan demikian seterusnya sehingga akan ada banyak sekali kebaikan di dunia ini :) Keren ya, cita-citanya, walaupun cuma film saya punya cita cita yang sama dengan Trevor..

Konsep tersebut hampir sama dengan konsep karma, bahwa setiap perbuatan, entah itu baik atau jahat akan ada balasannya tidak selalu langsung dari orang uang dibaiki/ dijahati, tetapi bisa dari orang lain.

Sampai saat ini saya memegang kuat prinsip tersebut.

Dan Alhamdulillah saya dan suami diberi kesempatan untuk Pay It Forward, bukan bermaksud menyombongkan diri ataupun riya', tulisan ini dibuat untuk memotivasi dan menularkan kebaikan kepada para pembacanya (termasuk salah satu upaya Pay It Forward)

Pada saat suami saya EBTANAS SMA, Bapak Mertua terkena stroke, Bapak yang saat itu masih aktif sebagai Kepala Sekolah SD harus pensiun, kondisi tersebut tidak membuat suami saya menyerah dengan cita-citanya untuk kuliah.

Dengan keterbatasan biaya, suami harus rajin cari pendanaan dengan menjadi guru les siswa SMA dan mencari beasiswa, dalam satu semester suami saya bisa mendapatkan 3 beasiswa yang berbeda, Alhamdulillah cukup untuk bertahan kuliah dan bertahan hidup di perantauan sebagai anak kos. Salah satu penyedia beasiswa tersebut adalah Dompet Dhuafa, jumlah yang diberikan oleh Domet Dhuafa adalah 100rb/bulan, berjalan selama 3 semester. Alhamdulillah suami lulus pada tahun 2004 dan langsung bekerja.

Setelah bekerja suami saya harus membiaya biaya kuliah 3 orang adeknya, saat kami menikah tahun 2007 suami masih memegang amanah mengkuliahkan adeknya, dan baru selesai menjalankan amanah tersebu pada Tahun 2010 pada saat anak kami berusia 2 tahun.

Inti ceritanya bukan tentang suami saya mengkuliahkan adek-adeknya, tetapi justru kejadian setelah itu. Setelah beban finansial kami berkurang karena adek-adek sudah lulus, dan usaha Persewaan Mainan yang kami rintis cukup mapan, maka kami mulai bisa menata kondisi keuangan kami. Pada saat itulah saya mengusulkan kepada suami untuk "Meneruskan Kebaikan" yang dulu beliau terima dari Dhompet Dhuafa, dengan cara menjadi donatur Dompet Dhuafa, supaya mahasiswa lain yang mengalami kesulitan seperti suami saya dahulu, bisa mendapatkan bantuan sama seperti yang didapat suami saya dulu.. Bismillah jadilah kami donatur Domper Dhuafa mulai tahun 2013, jumlahnya belum banyak, sama seperti jumlah bulanan yang diterima suami saya dulu, teriring niat, insyaAlloh setiap tahun akan memperbanyak jumlahnya..

Semoga bisa bermanfaat bagi penerimanya, dan bisa meneruskan kebaikan kepada para penerus kebaikan yang lain

Amin Amin Amin Ya Robbal'alamin

 

Trevor menggambarkan idenya tentang meneruskan kebaikan

gambar diambil dari http://www.teachwithmovies.org/